Sari Menyelenggarakan Seminar Hasil Studi Komparasi Desbumi Desmigratif Kab. Wonosobo

Pada hari Selasa, 25 Februari 2020 SARI menyelenggarakan kegiatan Seminar Hasil Studi Komparasi Desbumi-Desmigratif Kab. Wonosobo.Tujuan kegiatan ini adalah pertama mensosialisasikan hasil studi komparasi Desbumi-Desmigratif Kab. Wonosobo dan kedua adalah sebagai basis data untuk rekomendasi kebijakan.

Tahapan proses riset studi komparasi ini melalui serangkaian kegiatan riset, mulai dari penyusunan instrumen studi komparasi, pelatihan enumerator, ujicoba instrumen, riset studi komparasi, analisis data hingga sosialisasi hasil studi komparasi dalam bentuk seminar ini.

Para Enumerator riset studi komparasi ini berasal dari Komunitas-komunitas Desbumi / Desa Peduli Buruh Migran yang tersebar di empat desa di Wonosobo, Empat desa tersebut adalah Ds. Kuripan Kec. Watumalang, Ds. Lipursari Kec. Leksono, Ds. Rogojati Kec. Sukoharjo dan Ds. Sindupaten Kec. Kertek Wonosobo. Enumetator ini melakukan kegiatan riset studi komparasi atas kerja sama Migrant CARE dan mendapat dukungan dari program Mampu

SARI menyelenggarakan Seminar Hasil Studi Komparasi Desbumi – Desmigratif di Hotel Kresna Wonosobo dengan menghadirkan narasumber dari Migrant CARE Jakarta mereka adalah Zulyani Evi (Tim Data dan Publikasi-Migrant Care), Yovi arista (Koordinator Data dan Publikasi Migrant Care) dan Savina (Tim SDGs Migrant CARE) dengan moderator Tri Widiyanto dari SARI Solo.

Tri Hananto selaku Ketua BPH SARI membuka acara seminar ini sekaligus menyampaikan kata sambutannya. Kegiatan ini mengundang seratus orang dari berbagai unsur al : Mampu, OPD, Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Desa, PPT Desa, Komunitas Desbumi, Komunitas Buruh Migran, Organisasi Kemasyarakatan dan Media.

Dalam paparannya, narasumber menyampaikan hasil dari studi komparasi al : 1) Membangun Perlindungan Pekerja Migran Berbasis Desa di Kabupaten Wonosobo, Study Komparatif Program DESBUMI – DESMIGRATIF Di Desa Kuripan, Desa Lipursari, Desa Sindupaten Desa Rogojati. 2) Kabupaten Wonosobo menjadi wilayah basis PMI dan pertumbuhannya 7% mayoritas perempuan dengan tujuan Singapura, Hongkong Taiwan dalam 5 tahun ke belakang. Situasi ini memperkuat bahwa fenomena migrasi ini berasal dari desa. Desa tidak hanya menjadi tempat asal tapi fase bermigrasi dan purna. 3) Hadirnya UU 6/2014 tentang Desa, memperkuat posisi desa, tiga aspek kewenangan: aspek yuridiksi, atributif dan aspek anggaran namun belum banyak dialokasikan untuk buruh migran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Contact Us

Update Informasi Vaksin Covid 19 klik
+